Ngawawaas, bisa berarti memaknai kembali apa yang sudah terjadi di masa lampau. Istilah tersebut bisa mempunyai arti ganda; terjebak dalam pemuasan dahaga akan kerinduan pada masa lalu, atau bisa berarti masa lalu (baca: sejarah) itu sebagai modal dasar untuk menata kedepan yang lebih baik. Begitu pula dengan teknologi kamera lubang jarum. Teknologi dasar optis, bagian dari peradaban manusia, tercipta jauh sebelum penemuan teknik perekaman gambar secara permanen ada (1826), teknik kamera obscura hadir untuk menandai-merekam ruang dan waktu, kemudian dimaknai kembali pada masa sekarang. Daripada ngawawaas, melempar jauh angan pada masa lalu dan terjebak di situ, lebih baik diwawaas, sebagai penanda semangat perubahan untuk masa kini. Pinhole Bandung beraksi lagi.

Hari sabtu, 28 Agustus 2010, ruang luar selasar Gedung Konperensi Asia-Afrika, di jalan Asia Afrika Bandung, saat itu menjadi ajang ruang bersama berkumpul komunitas. Acara yang diselenggarakan oleh Bandung Heritage ini, selain bermaksud ajang forum silaturahmi antar komunitas, juga merupakan sosialisasi menjelang Indonesia Pusaka, bulan September 2010 di Bumi sangkuriang Bandung. Menggalang beberapa beberapa perkumpulan yang mempunyai kesenangan yang sama, bagi panitia penyelenggara sangat penting, karena melalui komunitaslah, kota ini bisa berwarna. Diantaranya komunitas lubang jarum, tergabung dalam Pinhole Bandung (Komunitas Kamera Lubang Jarum-Bandung dan kamerapinjaman.com/KAMPI) turut menyemangati kegiatan ini.

Sabtu sore, 3 jam menjelang berbuka puasa, pukul 15.00 wib, ruang luar sayap barat gedung museum KAA, mendadak menjadi ajang temu komunitas. Masing-masing komunitas dinaungi tenda persegi empat, termasuk komunitas lubang jarum. Tertera dimeja regristrasi panitia pintu masuk menerangkan, beberapa pilihan aktifitas yang dapat diikuti oleh partisipan, diantaranya workshop singkat, bagaimana caranya merekam gambar dengan menggunakan kamera rakitan yang terbuat dari material yang tidak digunakan lagi, alias limbah. Inilah kamera tanpa lensa.

Daya pikatnya selalu saja menggemaskan, bagi beberapa partisipan yang berlalu lalangg di luar ruang gedung ini. Sebagian besar hinggap di booth Pinhole Bandung. Diantaranya dua anak usia sekolah dasar yang nampaknya malu-malu, menjadi semakin berani karena penasaran ingin mencoba. Dua kakak adik itu duduk manis, mencoba mengerti apa yang diterangkan oleh Deni, penjelasan singkat tanpa embel-embel teori, bagaimana cahaya yang diproyeksikan, kemudian direkam kertas foto. Dengan berbekal kamera rakitan, dibimbing Gungun Nuryadin, anak itupun sedikit mendapatkan pencerahan, apalagi setelah masuk kamar gelap. Kertas kosong ukuran 4R itu mengandung gambar, setelah ditenggelamkan dalam larutan developer. Menakjubkan, gumannya. Seorang fotografer kaliber dunia pun, Ansel Adam mengaku dirinya mulai terjerumus dalam fotografi pertama kali, karena menyaksikan peristiwa ini didalam kamar gelap.

Berbeda dengan pengalaman seorang partisipan dari Amerika, Alexandria, meskipun ia pernah mendengar istilah pinhole di negaranya, baru kali ini ia mencobanya. Meskipun hanya mengerti bahasa ibunya, teman-teman dari Pinhole Bandung berhasil membimbingnnya-meskipun dicampur bahasa isyarat, hingga ia mengerti-mendapatkan pengetahuan singkat, memotret dan proses di kamar gelap. “It was wonderfull experience!” katanya antusias. Kesempatan langka ini baginya adalah pengalaman yang berharga selama kunjungannya di kota Bandung. Beberapa partisiapanpun bergantian menapaki kembali teknologi  merekam yang telah ada berabad-abad yang lalu. Spontanitas tercermin dari beberapa partisipan yang hadir, bahkan Mia Damayanti, fotografer digital mahir, tanpa belepotan bagaimana mencari keseimbangan waktu pencahayaan yang tepat. “Kalau tau gini, aku jadi ketagihan!” katanya spontan, mengomentari karyanya yang dianggap kurang waktu pencahayaan.

Waktu yang pendek, sebenarnya tidak menyurutkan keinginan dari komunitas ini berbagi ilmu, mengobarkan semangat kreatifitas dan imajinatif melalui lubang kepada para pengunjung acara ini. Pinhole Bandung selalu setia digawangi Gilang, Willi, Dedegondrong, Gungun, Lala, Deni Rahadian, Rofii, Ronny, Benny, Tri Damayantho (indonesiakreatif) dan Deni Sugandi, yang tergabung dalam Pinhole Bandung, bersama-sama menyuarakan bahasa visual lubang jarum sebagai medium ekspresi. Melalui Tubagus Adhi, pengurus Bandung Heritage Society, Pinhole Bandung ditantang sekali lagi untuk berpameran dalam rangkaian acara world heritage-Pusaka Indonesia, 23-26 September 2010, yang akan jatuh bertepatan dengan hari ulang tahun kota Bandung. Untuk kesempatan ini, Pinhole Bandung akan merespon kota sebagai artefak visual di acara pameran lubang jarum nanti. Tunggu tanggal mainya! (denisugandi@gmail.com)

Share:
  • Digg
  • email
  • Facebook
  • Google Buzz
  • Ping.fm
  • Plurk
  • StumbleUpon
  • Twitter
  • Yahoo! Buzz
  • del.icio.us
  • RSS
  • Tumblr