Ruangan pertemuan utama, tampak padat. Siaga, Penegak, Penggalang dan Pembina, duduk rapih diantara deretan panjang ruang di lantai dua. Inilah siswa dan siswi Pramuka Kwartir Kota Bandung yang berasah imajinasi melalui sebuah kaleng.

“Jumlah semuanya 120 orang lebih” kata Benny, selaku panitia pelaksana. Jumlah yang sungguh banyak untuk pelaksanaan kegiatan wokrshop lubang jarum, yang harus dilakukan untuk tiga jam. Dengan jumlah sebanyak itu, tentunya perlu manajemen efektif agar semua peserta dapat mencobanya, walaupun satu kali. Untuk pengalaman seperti ini, komunitas Pinhole Bandung memang belum pernah melaksanakan kegiatan workshop singkat untuk sebanyak itu. Hanya satu hal yang perlu diperhatikan, adalah ruang proses cuci haruslah besar. Akhirnya sehari sebelum pelaksanaan; Benny, Ronny, Deni, Gungun dan Rofii menyiapkan ruang Pembina pramuka seluas 6×7 meter disulap sementara menjadi kamar gelap. Malahan Benny dan Ronny sengaja meminjam kain berwarna hitam dari temen-teman teater, untuk menutupi jendela ruang tersebut. Peran mereka, pada  kesempatan workshop kali ini, diajukan pada kegiatan tahunan Pesantren kilat, yang diselenggarakan kwartir kota Bandung. Malahah Pembina Kak Ipung turut mendukung kegiatan workshop ini.

Untuk urusan ruangan, agar tidak terjadi penumpukan, maka disepakati sistem “flowing” cara seperti ini sangat efektif, mengingat setiap anak bisa masuk kapan saja, tanpa harus membuka pintu. Jalur masuk utama disekat dengan menggunakan kain penutup, sehingga bisa dibuka kapan saja. Pada pengalaman sebelumnya, waktu banyak terbuang karena beberapa orang harus menunggu. Begitu pula dengan bak pencucian di kamar gelap. Jumlah wadah pencucian-tray, dibuat lima set, sistem rotasi, sehingga memudahkan dan mempercepat proses pencucian. Agar terbebas dari larutan kimia, pengisian kertas foto diletakan jau dari meja pencucian. Pada pelaksanaanya, ternyata ruang tersebut bisa menampung partisipan hingga 40 anak satu kali rotasi. Untuk safe-light, masih menggunakan lampu penerangan utama, lampu tungsten-neon, yang dibalut plastik mika warna merah lima lapis.

Persoalan berikutnya adalah bagaimana caranya menyampaikan informasi singkat dan tepat dalam tempo 10 menit!. Tentunya tidak perlu bertele-tele, malahan lebih memberikan bentuk motivasi. Menebarkan semangat dan rasa penasaran, sedangkan persoalan teknis tentunya diberikan pada waktu perakitan kamera. Dengan berbekal jumlah kaleng yang terbatas, maka diputuskan, satu kamera kaleng untuk dua orang, dengan cara bergiliran.

Demi memudahkan perakitan, maka jumlah partisipan dibagi menjadi enam kelompok, yang difasilitasi oleh “pegawai setia” Pinhole Bandung; Rofii, Deni, Willi, Dedegondrong, Gungun, Ramdan, Lala, dan Deni Rahadian. Sebagai panitia, Benny dan Ronny pun turut membantu. Ruang luar taman pramuka kwatir Bandung sangat luas, maka kelompok yang terdiri dari 20 orang disebar menempati beberapa sudut kosong. Singkat waktu, cukup 15 menit mejelaskan dan memasang lubang coblosan jarum pentul, perkelompok diarahkan masuk kamar gelap. Ruang kantor pembina sementara berubah fungsi menjadi ruang proses. Juragan kamar gelap, siapa lagi kalau bukan Dedegondrong yang berkompenten dalam urusan gelap-gelapan.

Bagi kesempatan ini, perlu dicatatkan. Tidak sepeti dugaan awal, bahwa partisipan diantaranya adalah siswa kelas dua hingga enam sekolah dasar, dianggap paling sulit diarahkan. Namun tuduhan itu meleset, ternyata sejauh dugaan yang dibenam dalam benak, ternyata siswa ini sungguh disiplin. Malahan untuk urusan proses yang bakal acak-acakan karena 40 lebih siswa didalam kamar gelap, ternyata sungguh diluar dugaan. Masing-masing siswa bisa menertibkan dirinya sendir. Catatan lain yang jenaka adalah proses mengisi kertas foto yang belum diekspos ke dalam kamera kaleng. Pada awal pertemuan, jelas lantang diingatkan untuk tidak melakukan pengisian kertas diruang terang, ternyata tercatat 4 orang siswa yang kurang paham. Beberapa siswa mengisi kertas diluar ruang tempat terang, karena mengaku kesulitan dilakukan di dalam kamar gelap, karena remang-remang.

Menjelang pukul sebelas siang, semua siswa telah mencoba bagaimana rasanya memotret dengan menggunakan kamera buatan sendiri. Proses merakit, memotret dan proses kertas foto, bagi mereka adalah pengalaman yang sulit dilupakan. Beberapa siswa bahkan terpukau, ketika didalam kamar gelap, menyaksikan langsung proses eksposure bisa menghasilkan gambar. Hampir semua siswa berhasil merekam gambar, meskipun diberikan pengarahan lima belas menit. Namun sayang sekali, karena jadwal mereka sungguh sangat padat, maka diskusi evaluasi tidak sempat dilaksanakan.

Lubang jarum mengajak mereka untuk menggulirkan kreatifitas. Menempatkan mereka pada pilihan mementingkan proses imajinatif ketika memotret. Nuansan edukasi inilah yang coba ditawarkan pada mereka, bahwa lubang jarum turut pula mendidik pada anak dini usia. (denisugandi@gmail.com)

Share:
  • Digg
  • email
  • Facebook
  • Google Buzz
  • Ping.fm
  • Plurk
  • StumbleUpon
  • Twitter
  • Yahoo! Buzz
  • del.icio.us
  • RSS
  • Tumblr