Melalui pesan singkat di handphone, Ahmad Agfan dari Enlight Learning Center/ELC, memberikan informasi, bahwa ada 200 anak lebih, tergabung dalam rangkaian Hi-Tech Mooslem, Pesantren Ramadhan 1431 H DKM Darul Ihsan, PT Telkom, di Telkom Learning Center, 4-6 September 2010. mengundang Pinhole Bandung untuk melaksanakan workshop merakit kamera, merekam dan proses kamar gelap, termasuk dalam rangkaian kegiatan panjang liburan siswa. Bertempat di Divklat Telkom Gegerkalong, acara ini berlangsung meriah, singkat dan padat tetapi lancar, persis seperti jalur mudik pantura.

Seperti biasa, sesuai jadwal waktu yang telah ditetapkan oleh panitia Enlight Learning Center adalah pukul 10.00 wib, juntrungannya pasti selalu penuh kompensasi, jadi acara bergeser, dimulai pukul 11.15 wib. Bagi komunitas, jeda waktu tersebut adalah dewa penolong, saatnya untuk mempersiapkan semua perlengkapan penunjang. Tentu saja, seperti biasa, kamera rakitan untuk siswa SMP dan SMU, belum tuntas dirakit, tetepi bagi komunitas lubang jarum Pinhole Bandung, hal tersebut adalah hal biasa, karena sudah menjadi kebiasaan. Inilah keindahan bergabung di komunitas ini, hingga detik terakhir persiapan, semuanya serba dadakan. Bukan berarti semuanya tanpa persiapan, namun rupanya dari pihak panitia belum mengkomunikasikannya pada para pendamping siswa, untuk mempersiapkan karton duplek, bahan dasar kamera rakitan. Beberapa karton memang sudah disiapkan, namun belum ditempeli karton hitam, sebagai alas dasar bagian dalam kamera. Begitupula dengan kamera rakitan untuk siswa sekolah dasar, beberapa kaleng belum dilubangi.

Semuanya harus serba gerak cepat, Benny, Ronny, Abeagustian, Awan  dan Denirahadian mempersiapkan kamar gelap. Ruang aula Indigo tersebut harus berubah menjadi kamar gelap segera. Untuk urusan kamera rakitan, dilakukan oleh Willi, Gilang, Vivi, Gungun, Ramdan, Rofii dan Denisugandi. Untuk urusan campur obat, dilakukan oleh Dedegondring.  Inilah keindahan bergabung di komunitas ini, masing-masing mempunyai peran, tanpa dikomandoi. Semuanya bisa menempatkan diri. Pengalaman ini, pasti bisa menjadi bekal diluar komunitas.

Untuk urusan kamar gelap, dua hari sebelumnya, telah disurvey dan ditentukan ruang aula Indigo, ruangan kelas belakang aula utama Saraswati disulap sementara menjadi kamar gelap. Ruang luas tersebut diperkirakan bisa menampung lebih dari 70 anak sekaligus, tanpa menggunakan sistem tutup-buka, jadi jalur lalu lalang siswa bisa masuk untuk proses dan mengisi kertas secara bersamaan.

Tepat pukul 11.15 wib, didepan 200 anak siwa sekolah dasar,  menengah dan atas, Deni menerangkan proses dasar-dasar perekaman gambar. Untuk mempersingkat waktu dan efektif penyampain materi, dalam presentasi ini lebih banyak menggunakan gambar dari lcd proyektor dan peragaan. Willi menerangkan untuk siswa sekolah dasar, bagaimana merakit kamera menggunakan kamera dari kaleng bekas; membuat lubang menggunakan jarum, menutup dan mengisi kertas di kamar gelap. Disambung penjelasan Vivi, bagaiamna caranya merekam gambar, memilih sudut dan waktu perekaman. Diakhir penjelesan perakitan kamera ditutup oleh Dedegondring, tata cara proses kertas foto di kamar gelap. Diruang lainya, Rofii, Gilang dan teman-teman yang lainnya, memberikan pengarahan singkat perakitan kamera menggunakan karton duplek pada pemandu. Semua pemandu, disebut mentor tersebut, berjumlah 27 orang, yang akan membimbing siswa merakit kamera.

Sesi kedua, pukul 13.00 wib, siswa sekolah dasar mulai merakit kamera mereka. Dibantu para mentor, siswa ini bisa menyelesaikan perakitan kamera dalam tempo 20 menit lebih. Selanjutnya, dibantu Dedegondrong dan teman-teman lainya, siswa ini begiliran masuk kamar gelap. Meskipun sudah disarangkan untuk memejamkan mata sesaat, proses adaptasi sebelum memasuki kamar gelap, nampak siswa sekolah dasar ini begitu antusias, bahkan ada beberapa anak yang menjerit ketakutan. Untuk memudahkan lalulintas ruang kamar gelap, apalagi untuk jumlah yang banyak, maka tidak menggunakan pintu. Agar tidak ada cahaya yang masuk, digunakan dua sekat, menggunakan dua kain hitam. Satu kain khusus dibeli pihak panitia, satu lagi adalah sumbangan pinjaman Benny dan Ronny, kain hitam untuk kebutuhan panggung teater!

Satu persatu siswa SD akhirnya bisa menikmanti, bahkan beberapa anak sangat antusias. Hingga satu jam lebih berlalu, lebih dari tiga kotak kertas isi seratus telah habis di ekspos. Karena menggunakan kaleng, hampir semua siswa berhasil merekam gambar dengan ekspos yang pas. “ah, repot juga ya, masa sih lama banget, kan isi kertas, terus harus masuk lagi kamar gelap!” cela sorang seorang siswa, kemudian ditimpali oleh mentornya “kalau gitu pake aja kamera digital, kan gampang”. Kalimat polos dari anak siswa sekolah dasar tersebut adalah bentuk keluhannya. Ini menandakan bahwa proses kreatif lebih disukai yang bersifat instan.

Gelombang kedua, disusul siswa menengah dan atas. Meskipun dengan susah payah merakit kamera, beberapa kelompok sudah bisa mulai memasukan kertas dan mecobanya. Sebagai catatan, paras siswa menengah dan atas diberikan kesempatan merakit kamera dengan karton duplek 4 mili. Bentuk kamera yang dibuat adalah berdasarkan hasil disain Rofii. Sesuasi keinginan, setiap workshop harus menhadirkan bentuk kamera rakitan yang berbeda, agar berikutnya mempunyai bentuk kamera yang beragam. Meskipun pernah diberikan pembekalan cara-cara merakit kamera, namun para mentor rupanya masih belum mengerti detail teknis perakitan. Akhirnya Rofii pun sukarela bekeliling aula luas di gedung Saraswati “Lebih dari sepuluh kali saya muter-muter ruang, kalau dilurusin mungkin sudah nyampe ke Lembang” sahutnya, begitu antusiasnya para peserta, yang belum mengerti bagaimana merangkai karton duplek menjadi kamera.

Waktu yang dilalui lebih dari satu jam lebih, jam menunjukan pukul 14.30 wib. Akhirnya pihak panitia memberikan kelonggaran waktu, memberikan ekstra waktu satu jam, jadi akan berahir di pukul 16.00 wib. Seiring waktu, beberapa kelompok sudah bisa melakukan uji kamera, memasukan kertas di kamar gelap. Tidak seperti siswa sekolah dasar, siswa menengah dan atas ini lebih tertib. Bila dilihat dari jumlah partisipan yang mengikuti workshop singkat ini, lebih banyak untuk anak sekolah dasar, berkisar 120-an siswa, sedangkan selebihnya adalah siswa lanjutan. Untuk ruang luar uji coba, nampak ada mencoba memotret teman-temannya. Meskipun telah diterangkan oleh Gilang di awal pertemuan, namun rupanya beberapa siswa masih mengaanggap pengoperasian kamera ini seperti menggunakan kamera digital pada umumnya, yaitu bukan diletakan diatas tempat yang statis, namun beberapa masih dipegang tangan. Tentu saja beberapa gambar menjadi goyang. Walaupun begitu, setelah diproses dikamar gelap, mereka sangat puas.

Workshop berakhir pukul 16.20 wib, beberapa siswa sekolah dasar  kembali memasuki ruang utama untuk mengikuti kegiatan selanjutnya. Kini giliran sekolah menengah dan atas yang menuntaskan proses di kamar gelap. Beberapa orang siswa SMU begitu senang dengan gambar yang dihasilkannya, malahan beberapa orang masih menyempatkan diri untuk difoto bersama hasil karyanya, “buat di upload di facebook” katanya. Dari rangkaian kegiatan ini, semua siswa sangat puas, bahkan menurut Imam dari Enlight Learning Center, menyatakan bahwa pihak penyelenggara acara TELKOM sangat puas, tidak menyangka anak-anak siswa bisa larut menghayatinya.

Meskipun ini adalah kuantiti terbanyak yang pernah diselenggarakan oleh Pinhole Bandung atas undangan Enlight Learning Center, bukan berarti kegiatan tanpa makna, namun masing-masing siswa mendapatkan manfaatnya. Anggapan untuk berkreasi itu membutuhkan biaya besar, ternyata tidak demikian. Begitu juga apresiasi artistik mulai disemaikan untuk dini usia siwa sekolah dasar, dan pemahaman kreatifitas untuk merakit kamera untuk siswa sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. Begitu juga dengan para mentor, pendamping kelompok pun turut larut mencoba dan memberikan kesan lain dalam kegiatan ini.  (denisugandi@gmail.com)

Share:
  • Digg
  • email
  • Facebook
  • Google Buzz
  • Ping.fm
  • Plurk
  • StumbleUpon
  • Twitter
  • Yahoo! Buzz
  • del.icio.us
  • RSS
  • Tumblr