Pengamatan Cevy, staff humas Palang Merah Indonesia kota Bandung memang tidak salah. Nuansa kretifitas di komunitas lubang jarum bandung, sangat cocok untuk di komunikasikan pada siswa sekolah menengah atas di Bandung, melalui workshop merakit kamera lubang jarum, tanggal 13 Nopember 2010 di gedung PMI kota Bandung.

Memberikan bantuan pada korban bencana memang tidaklah harus secara langsung, namun bisa dengan berbagai cara, yang nantinya akan berujung di satu titik; sama-sama memberikan sudut pandang lain kreatifitas sebagai sarana untuk menolong sesama. Pagi itu, dipelataran parkir gedung, sesuai waktu, tepat pukul 08.45 WIB, satu gelombang relawan PMI siap diberangkatkan ke Yogyakarta, dalam rangkaian persiapan dan bantuan penanganan paska bencana Merapi. Begitu juga dengan “relawan” komunitas lubang jarum Bandung, yang siap-siap memberikan bantuannya menyebarkan wawasan lubang jarum kepada seluruh siswa SMU se-kota Bandung, yang tergabung dalam Palang Merah Remaha/PMR masing-masing sekolahnya.

Cevy dan Ibu Kristin, pihak humas PMI, berkeyakinan bahwa para PMR-pun wajib mengerti teknik dasar-dasar perekaman fotografi, selain untuk pelengkap keterampilan juga mengasah kreatifitas dan imajinatif, yang nantinya turut membekali mereka ketika bersentuhan langsung dalam penanggulangan bencana. Tidaklah aneh, dalam lubang jarumpun diajarkan “problem solving”, tidak percaya? Percayalah.

“Bentuk apapun bisa menjadi kamera, asal ada volume-ruang kosong yang kedap cahaya” antar Deni Rahadian, selaku seksi sibuk, atau dalam bahasa asingnnya “project leader” dalam garapan kali ini. Membuat ruang kosong anti-cahaya tersebut, menjadi tantangan bagaimana caranya merakit kamera bagi partisipan tingkat Wira ini. Partisipan harus bisa menutup “cahaya bocor” tersebut dengan berbagai cara, semacam tantangan untuk bisa menyelesaikan persoalan dasar; tidak boleh ada cahaya yang tembus-masuk kedalam kamera. Sesuai dengan komitmen yang tidak tertulis, komunitas lubang jarum Bandung ingin menyampaikan gagasan membuat kamera lubang jarum dengan cara merakit. Dalam kesempatan kali ini, kamera yang dirakit menggunakan karton tiga mili. Template bentuk memang sudah ditentukan terlebih dahulu, berbentuk kotak, dengan penutup bagian atas yang bisa dilipat. Dengan berdimensi lebar 8.5 cm dan lebar 8.5cm. Bentuk kotak seperti ini adalah disain bersama Gungun Nuryadin, Aceng Suparman dan Deni Rahadian. Gagasannya selalu muncul dimenit terakhir, sepertinya ide cemerlang itu selalu datang ketika dalam kondisi terjepit.

Waktu menunjukan pukul sepuluh lebih lima belas menit, ternyata hingga waktu yang diperkirakan, rakitan kamera tersebut belumlah tuntas. Kendala yang terjadi adalah keterampilan memotong menggunakan cutter. Beberapa partisipan kurang rapih, jelas akan mempengaruhi konstruksi bentuk dan kerapatan tiap celah disain kamera. Seperti biasa, relawan komunitas lubang jarum Bandung selalu setia mendampingin partisipan, sebut saja Gilang, Wili, Gungun, Deni Rahadian, Veralala, Egi, Deni Sugandi, Ivan, Benny, Roni dan Agung dari komunitas fotografi Cianjur, yang sengaja datang membantu workshop kali ini.

Wulan, salah satu partisipan, nampak begitu antusias mengikuti kegiatan kali ini. Dari awal ia masih saja sulit untuk bisa mengerti, bagaimana caranya kamera “kotak ajaib” ini bisa menghasilkan sebuah citra?. Akhirnya jawaban ia temukan sendiri setelah masuk dalam kamar gelap, kemudian dipandu untuk bisa memroses sendiri. “Jadi, jadi..” teriak Wulan. Tidak saja Wulan yang terbiuskan oleh pesona lubang jarum ini. Partisipan yang hadir pun memang sangat antusias. Hanya beberapa kali mencoba, partisipan bisa mengerti dasar-dasar prinsip perekaman. “Inilah dasar-dasar fotografi” seru Deni Sugandi, dalam rangkaian penutup evaluasi workshop. Selain mengajarkan kreatifitas tidak berujung, kamera ini mengajarkan pula proses imajinasi, yang disebut pre-visualisasi, bagaimana caranya “membayangkan” komposisis citra yang akan direkam kertas cahaya.

Seorang partisipan bertanya, kenapa gambar ia rekam berbeda dengan dengan rekannya, mesipun sudut pengambilan dan waktu rekam yang sama? Namun citra yang dihasilkan berbeda? Pertanyaan tersebut sangatlah menarik, memang sewajarnya harus dilontarkan partisipan. Inilah “ghaib”-nya lubang jarum, selalu memikat, setelah terpikat biasanya “terjerumus” menekuni. Awal mula pertanyaan tersebut akan selalu dilontarkan, tentunya menjadi jembatan menuju membuka tabir alam semesta melalui sebuah lubang. Jelas bahwa merakit kamera ini sangatlah personal, ketika melubangi, bentuk kamera, proses di kamar gelap hingga waktu perekaman, semuanya mempunyai parameter yang berberda, jadi lubang jarum itu sangat-sangat bersifat personal!. “Tidak ada gambar yang gagal, kalau tidak keren, pasti keren banget” sanggah Deni Sugandi. Yang perlu diyakini adalah setiap karya yang tercipta tidak ada karya yang gagal, semuanya adalah rangkaian proses. Jadi bukan hasil akhir yang penting, tetapi proses jauh lebih penting.

Hujan deras akhirnya menyudahi workshop di PMI kota Bandung ini, namun derasnya penasaran partisipan tetap saja mengebu-gebu. Sesuai dengan harapan koordinator kegitan, ibu Kristin, diharapkan para siswa SMU yang mengikuti kegiatan workshop ini bisa mengambil manfaatnya. Sekali lagi, komunitas lubang jarum Bandung turut menyebarkan cara berkreatifitas melalui lubang kecil, kamera lubang jarum. (denisugandi@gmail.com)

Share:
  • Digg
  • email
  • Facebook
  • Google Buzz
  • Ping.fm
  • Plurk
  • StumbleUpon
  • Twitter
  • Yahoo! Buzz
  • del.icio.us
  • RSS
  • Tumblr