sumber: http://www.gatra.com/artikel.php?pil=23&id=147296 atau http://www.gatra.com/2011-04-11/majalah/artikel.php?pil=23&id=147205
Kamera Lubang Jarum Kembali ke Khitah Fotografi
Selintas, tidak ada yang istimewa dari kaleng bekas kemasan makanan ringan itu. Hanya ada setumpuk plester hitam, seukuran ibu jari, pada bagian tengah badan kaleng yang juga berwarna hitam. Tapi, dengan kaleng itu, Willy, 20 tahun, menangkap dan melukiskan objek dengan cahaya dalam sebuah proses yang sejak dahulu kala dikenal sebagai fotografi.
Willy adalah mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, yang memiliki hobi fotografi. Kaleng hitam itu adalah kameranya yang dikenal dengan istilah teknis: kamera lubang jarum (KLJ).
Prinsip kerja KLJ adalah ruang gelap. Kotak atau benda lain yang kedap cahaya berfungsi sebagai badan KLJ, dilubangi pada salah satu bagian tengahnya dengan jarum berukuran kurang lebih 0,3 mm. Letak dan jumlah lubang itu beragam; bisa satu lubang dengan posisi di tengah atau empat lubang dengan posisi simetris. “Teman saya malah ada yang bikin sampai 32 lubang,” ujar Willy kepada Rivki Maulana P. dari Gatra.
Lubang jarum itu berfungsi sebagai celah masuknya cahaya menghantarkan objek. Sedangkan plester atau lakban hitam yang menutupi lubang itu adalah rananya. Untuk merekam objek, KLJ menggunakan kertas foto dan rol film yang ditaruh di dalam badan KLJ yang berhadapan dengan lubang. Untuk media rekam seperti kertas foto, butuh waktu sekitar 30 detik exposure, sedangkan jika menggunakan rol film hanya dua detik. Dengan perhitungan itu, KLJ memang agak sulit merekam objek bergerak.
Proses berikutnya adalah kamar gelap. Merendam, melarutkan dan mengembangkan hasil bidikan pada kertas foto atau rol film. Baru setelah itu, hasil akhirnya dapat dilihat dan dinikmati. Murah meriah tapi khidmat menelusuri khitah fotografi.
“Kamera lubang jarum adalah kamera yang tidak sempurna, tetapi mengajarkan kesempurnaan,” Ray Bachtiar menyebutkan jargon yang telah diamini kalangan penggiat KLJ. Ray adalah fotografer senior yang sejak tahun 1997 giat memopulerkan kembali KLJ di kalangan pencinta fotografi.
Meskipun tergolong ilmu yang cukup tua dalam fotografi, KLJ sebagai pengetahuan dasar dalam teknologi kamera masih terus digunakan dan dipelajari hingga saat ini. Ray mengatakan bahwa KLJ tidak akan mungkin mati. “Sepanjang orang ada yang masih penasaran kepada proses, maka dia tidak akan mati,” ungkap fotografer yang telah menulis buku Memotret Dengan Kamera Lubang Jarum (2001) itu.
Kepada Septho Marsiano dari Gatra, Ray mengemukakan bahwa dalam kerangka pendidikan, proses menjadi penting. “Karena kita harus menebak semua mata rantai untuk menjadi yang akhir,” katanya. Hal ini berbeda dari penggunaan teknologi mutakhir yang cenderung mendewakan alat.
Perkembangan teknologi membuat khazanah fotografi kini semakin cepat, mudah, dan akurat. Hal itu berimbas timbulnya cara berpikir instan: segala sesuatunya dihitung oleh durasi, kecepatan, dan akurasi. “Di sinilah metode rekam lubang jarum melawan,” ujar Denni, seorang anggota Komunitas Lubang Jarum Bandung.
Pada skala nasional, tersebutlah Komunitas Lubang Jarum Indonesia (KLJI) yang berdiri pada 17 Agustus 2002. Sejak saat itu, para penggiat KLJI melakukan “ekspansi” kegiatan di berbagai wilayah di Tanah Air. Sampai saat ini, para penggiat KLJI sekurang-kurangnya telah tersebar di 17 kota besar di Indonesia. Kegiatan KLJI, antara lain, memfasilitasi pelatihan ke kampus-kampus serta sekolah-sekolah tentang praktek dan pembuatan KLJ.
Bambang Sulistiyo
[Fotografi, Gatra Nomor 23 Beredar Kamis, 14 April 2011]













