















Hujan akhirnya deras, seperti air bah yang jebol, semua booth tenan basah kuyup, air yang dicurahkan seperti ingin menggusur tenda-tenda sarnafil yang ditata menutup jalan Braga bawah dan Naripan. Jargon lestari bumi itu pun dikomunikasikan melalui aktor pantomim yang berperan sebagai pembawa pesan melalui papan bertuliskan reduce-reuse-recycle, pada akhirnya tidak lebih dari tempelan, padahal sampah tetap saja ada. Ajakan tersebut seperti selubung pembenaran agar acara tersebut bermakna, Itulah sepotong siang di acara ulang tahun BJB yang dirayakan dan dibungkus tema Lestari Bumi, di sepanjang jalan Braga bawah dan menutup jalan Naripan, tanggal 15 Mei 2011. Ruang gelaran yang diselenggarakan event organiser Kawanika, bentuk dan ragam gelaran ini tidaklah berbeda dengan bentuk yang pernah dilangsungkan tiap tahun, Braga Festval, ada panggung musik, seniman yang merespon acara, pantomim dan booth penjaja makanan, jadi ragam kreasi yang ditawarkan biasa saja.
Bagaimana dengan lubang jarum Bandung? Dalam kaitannya dengan tema event ini, komunitas ini turut diundang, sebagai penggagas komunitas fotografi lubang jarum, yang menggunakan limbah tetrapak menjadi kamera lubang jarum media film negatif 35mm. Sehari sebelum, komunitas ini telah menyelenggarakan kegiatan merakit kamera dari bahan limbah, tanggal 14 Mei 2011, kemudian merekam sudut ruang cagar budaya di sepanjang jalan Braga. Upaya seperti ini, tentunya sebagai ajakan aksi untuk melihat kembali persoalan yang sebenarnya hendak dilupakan publik, tentang isu cagar budaya ini. Beberapa media menulis pemberitaan kekhawatiran penghancuran kawasan Braga secara sistematis, diantaranya pelapisan batu adesit yang kini semakin berbahaya bagi pengguna jalan. Bagaimana lubang jarum bersikap? Itula tadi, satu rangkaian kegiatan yang cap tema Papalidan Braga, satu kesempatan yang dibuat, untuk turut memaknai kembali Braga menggunakan metode lubang jarum, untuk menafsirkan pada masa kini.
Gerakan aksi lubang jarum, tidak saja berhenti dimerakit dari bahan limbah, tetapi memulai untuk merekam peristiwa, karena sama persis fungsi fotografi, merekam realitas yang sering luput dari pengamatan, kemudian ditafsir kembali, pastinya dengan segala keunikan artistik lubang jarum. Semua orang bisa menjadi seniman artisitik dadakan, karena lubang jarum mengijinkan demikian, namun jauh lebih penting adalah memberikan arti dari visualisasi lubang jarum, maka gelar karya Papalidan Braga menjadi penting. Pada akhirnya, lubang jarum itu adalah hanya sekedar alat perekam saja. Gerakan dimulai dengan cara transfer ilmu “perangkat aksi” melalui pelatihan merakit kamera, yang telah dilakukan di Rumah Seni Ropih, jalan Braga, kemudian dilanjutkan dengan gelar karya. pada saat bersamaan, gelar karya hasil workshop tersebut digelar di dua tempat; pukul enam pagi hingga sepuluh di car free day depan Seruni Foto di jalan Merdeka, kemudian dilanjutkan di Braga dalam rangkaian event ulang tahun BJB. Dalam kesempatan ini, Ray Bachtiar dan keluarga menyempatkan hadir di gelar karya jalan Merdeka dan di Braga, selain memberikan dukungan, juga melihat gerakan lubang jarum Bandung. Untuk gelar karya di jalan Merdeka, diserahi pada Ivan Arsiandi. Sambutan dari pihak manajemen Seruni Foto diluar dugaan, bentuk apresiasi pun diberikan langsung oleh founder Seruni Merdeka Foto, terbukti acara gelar karya inipun dihadiri oleh founder studio foto ini, Husein Tanzil dan Sakaria Tanzil. Setelah acara penutupan jalan selesai, pukul 10.00 wb, bergabunglah Roni, Benny, Dwi Cirebon, Egi Bantani, Amy, Ramdan, Gilang A Ramadan, Vera Lala, Ahmad Afgan, Deni Rahadian, Denny Nurakhman dan kawan kawan dari KLJI Cirebon, bergabung di Braga.
Di Braga, Deni Sugandi, mempersiapkan booth bersama Willi sejak pagi hari. Sesuai dengan komitmen pihak penyelenggara acara, bahwa hingga pukul tuuh pagi tidak ada lagi kegiatan loading di booth, namun kenyataanya lain, hingga pukul enam, pihak panitia pun belum paham dengan layout booth, hingga dengan terpaksa, booth komunitas lubang jarum memilih versi semena-mena, menempati di areal yang pas, antara Braga dan Naripan. Meskipun ukuran booth hanya 3 x 3 meter, namun bisa dimanfaatkan optimal, diantaranya memperlihatkan beberapa karya yang digelar, t-shirt titipan yang bernuansakan lubang jarum, alat-alat peraga kamar gelap dan sebagainya.
Untuk urusan pasang dan gelar karya, karena ruang disediakan panitia tidak mencukupi, maka karya-karya KLJI Cirebon, dipajang di jendela kantor BJB, seberang booth, di atas trotoar jalan Naripan. Dengan berbekal kain hitam panjang 5 meter sumbangan pa Endang, kain itu ditempel menggunakan clip kertas sebagai alas pameran. Tampak dadakan, tetapi itulah gerakan sporadis, serba imporvisasi. Meskipun dadakan, tetap saja hasil karya teman-temen KLJI Cirebon bisa bersuara, tentang pelabuhan Cirebon. Tiga karya hasil workshop sehari sebelumnya, turut pula menghiasai gelar karya ini, karya Dwi, Dadang dan Hani. Gambaran Braga diupayakan dihadirkan Dwi dengan merekam bangunan bekas Dennis Bank masa kolonial ini kemudian berubah wujud, dinasionalisasi masa pemerintahan Soekarno dan diperbaharu saat presiden Soeharto menjadi Bank Jabar, kemudian berganti menjadi BJB. Sudut unik dari bawah, menyebabkan bangunan seakan roboh. Begitu juga karya Dadang, yang menggambarkan pusat ibadah masa kolonial yang dibuat blur. Sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa, namun efek blur tersebut menjadi arti lain bila seksamai.
Karya Hani yang juga merekam bangunan tua braga, terlihat lebih suram, seakan menggunakan dominan gelap, segelap status Braga kini. Demikian karya-karya yang dimunculkan pada gelar karya suka-suka versi lubang jarum.
Dalam kesempatan ini, Wili merakit kamera terbuat dari kotak korek api, sebagai material demo. Terbutkti, salah satu karyawan BJB yang mengunjungi booth tertarik untuk mencobanya. Tidak terbatas waktu, hingga sore pun masih tampak beberapa pengunjung yang menyemuti booth ini, bahkan ada beberapa pengunjung yang berusaha menawar karya, namun kesempatan seperti ini seakan dilewati begitu saja, karena belum ada kesepakatan dengan sipemilik karya, jadi belum pantas untuk di jual semena-mena. Dari tawaran seperti ini, sebernarnya membuka peluang ekonomis buat komunitas ini, mau? (denisugandi@gmail.com)













