Catatan dari event Papyrus Photo Light Festival 2011
“Pokoknya yang semenarik mungkin lah” begitu titipan panitia penyelenggara event Papyrus Photo-Light Festival 2011, di Square Plasa CiWalk Bandung. Pesan yang sulit untuk diterjemahkan, bagaimana mungkin sebuah ideologi cahaya yang diproyeksikan ini menjadi kemasan yang menarik? Menarik untuk apa? Seperti magnet kah? Anggap saja terjemahan bebasnya adalah, bagaimana caranya dalam durasi 25 menit, tidak ada satupun penonton yang kabur. Mungkin itu yang dimaksud menarik.
Biarlah titipan keinginan itu ditelah saja, namun pada akhirnya, selalu ada cara yang bisa menarik yang sebenarnya; belajar melihat cahaya itu sendiri diproyeksikan. Ini adalah misi sebenarnya, yang dimaksud menarik itu seperti ini. Penjelasan singkat untuk setiap pengunjung di booth Pinhole Bandung, bisa mengerti proses kerja kamera Obscura. Penjelasan proses proyeksi-terbalik-jelas tersebut berhasil menembus ruang relung kotak kardus, yang disulap menjadi kamera simulasi, kemudian mematenkannya pada media rekam (inggris. Fixing shadow): sebuah proses paling purba, kemudian intisarinya diterjemahkan dalam bentuk kamera portable oleh Thomas Wegwood.
Sepertinya Ibn Haitam tidak akan menyangka, proses penemuan cahaya yang diproyeksikan pada tendanya, adalah cikal bakal cara manusia merekam realitas, dibeberapa abad kemudian. Masa kinilah, Pinhole Bandung tidak bermaksuk mengenang kehebatan Giambattista della Porta, pelukis ternama tahun 1563, yang menyempurnakan kamera obscura, namun proses ini pasti akan dikaitkan dengan kekinian. Penyikapan seperti inilah yang hendak dikabarkan komunal ini pada event Papyrus Photo Light Festival 2011, di Square Plasa CiWalk Bandung, tanggal 22 Juli 2011.
“Kreativitas membuat kamera, imajinatif memotret dan pemaknaan setelah gambar muncul di kamar gelap” umbar Deni Sugandi, di depan pengunjung event ini. Konteks kekiniannya adalah, masalah penyikapan saja, sama-sama melihat bahwa proses instan yang dimiliki teknologi masa kini, ternyata menyebarkan kemuraman kreasi-imaji. Lihatlah betapa dahsyatnya dan semakin mudah, murah dan efektifnya kamera digital dan digital imaging. Perlengkapan semuanya tersedia, hanya jari gatal saja yang tinggal menekan shutter, membuka rana, sedangkan proses endap pemikiran-pembingkaian visi selalu dilupakan; bahwa fotografi itu ada dipemikiran. Pastinya komunikasi yang disampaikan pada pengujung event ini tidak serumit kalimat di atas, namun perlu alat peraga, karena dengan melihat maka percayalah.
Bagaimana alat peraga dibuat? Mudah saja, ingat bahwa obscura memilik syarat ada volume-ruang kosong kedap cahaya dan lubang untuk memproyeksikan cahaya masuk. Apapun bentuknya, bisa juga berupa bekas kardus air mineral kemasan, yang diperlukan adalah beberapa perlengkapan sederhana; pisau pemotong/cutter, plakban hitam, karton hitam, alumunium foil, kertas kalkir dan jarum pentul. Sedikit imajinasi, maka jadilah kamera dadakan lubang jarum!
“Coba lihat, didalam ada gambarnya” celoteh Widi dan teman-teman di Blackhole UPI, memberikan instruksi bagaimana mengoperasikan kamera ini. Beberapa takjub, bahkan ada berdecak kagum, bagaimana gambar yang direfleksikan tersebut bisa mucul. Emosi sepeti ini menyebar dibeberapa pengunjung, betapa sederhana proses optis ini terjadi. Peristiwa seperti ini malahan menjadi adegan lucu, belasan orang membenamkan kepalanya, pada dus bekas ukuran 25x30cm untuk melihat bayangan. Tampak seperti performance art, semua orang yang mencoba seperti mencari sesuatu di dalam kardus tersebut. Inilah jebakan lubang jarum! (denisugandi@gmail.com)













