Catatan dari pelatihan merakit kamera lubang jarum, 18 Agustus 2011
Jauh dua bulan yang lalu, ada permintaan untuk penyelenggaraan kegiatan pelatihan merakit kamera dan proses lubang jarum. Adalah Adianto, siswa SMU Taruna Bakti Bandung yang menginginkan kehadiran komunitas ini hadir di lingkungan sekolahnya. Memang sah, bila sebelumnya ditanya, kenapa harus lubang jarum? “Saya sih sudah tahu sebelumnya, lewat informasi di iternet, juga dari media. Sebenarnya akan seru kalau dilaksanakan di sekolah kami” jawabnya. Memang benar, ini adalah pertama kalinya, lubang jarum singgah di kampus ini.
Sekolah menengah atas yang dikenal ini, rupanya sedang melaksanakan kegiatan event tahunan, yang disebut MPK. Pelatihan merakit kamera lubang jarum, merupakan bagian awal dari event, yang akan ditutup oleh pagelaran kesenian dan musik di kampus ini. Workshop kreatif seperti ini memang haruslah dihadirkan, sesuai dengan permintaan penyelenggara pendidikan di sekolah ini, melihat bahwa lubang jarum pasti memberikan nilai positif.
Pelatihan ini diselenggarakan tanggal 18 Agustus 2011, dilaksanakan oleh teman –teman dari Blackhole Universitas Pendidikan Indonesia. Hadir diantaranya Reza Dwi L., Desriansyah, Widy Gumilar, Kenas Dayne, Bambang dan Samwiel. Seperti yang direncanakan sebelumnya, kamera didisain dengan ukuran yang telah ditentukan, terbuat dari material karton 3 mili. Bentuk seperti ini selalu berbeda dengan ukuran pada workshop sebelumnya. Selain untuk memberikan pilihan, juga tantangan untuk terus menggali bentuk yang selalu berbeda, diharapkan komunitas ini tidak selalu bergantung dari bentuk yang sudah ada, kemudian dimodifikasi, tetapi “mengarang” dan “merangkai imajinasi” sehingga bentuk berbeda.
Ukuran kamera yang dibuat berukuran 7 x 4 centimeter. Bentuk dan potongan telah dipersiapkan, sehingga proses perakitan tidak akan menyita waktu. Terbukti, setelah pemberian materi teori tentang lubang jarum oleh Samwiel dan kawan –kawan, membutuhkan waktu kurang dari satu jam untuk merakit kamera. Teknis pemberian materi praktek seperti ini, sangat menguntungkan bagi pemula, atau partisipan yang baru membuat kamera tanpa lensa ini, karena tidak dibikin rumit. Semakin mudah merakit, setidaknya tetap menyemangati bagi yang ikut dalam pelatihan ini untuk terus melanjutkan.
Ruang kelas lantai dua, menjadi ajang perakitan kamera, sejak tagi pagi, kawan-kawan dari Blackhole UPI sudah hadir. Terhitung lebih dari dua puluh orang yang ikut larut, namun hingga menjelang siang, rupanya ada juga beberapa siswa yang bergabung. Jadi total keseluruhan lebih banyak dari target awal, maka semakin seru. Yang menjadi persoalan adalah kamar gelap. Meskipun dari informasi awal, Gusti Arif kelas tiga, selaku koordinator pelatihan, ruang disediakan tersedia, namun informasi tersebut terputus. Sehingga teman-teman dari Blackhole UPI harus improvisasi, dengan menumpukan beberapa bangku menjadi pembatas kamar gelap dadakan. Untuk safety light, Samwiel tidak putus kreatif, maka kertas wajit merah ditempel pada jendela, sebagai cahaya penerangan, tidak harus menggunakan lampu!
Antusias partisipan dibuktikan dengan semangatnya mereka naik dan turun dari lantai atas ke bawah, untuk mendapatkan sudut pengambilan, begitupula mereka harus bersabar menunggu giliran masuk kamar gelap. Beberapa siswa tampak asik bahkan beberapa orang tampak menyimpan antusias, menunggu hasil sambil berharap-harap cemas. “Tidak ada gambar yang gagal, semuanya adalah proses” menanggapi kekecewaan beberapa partisipan siswa kelas dua dan tiga. Jadi lubang jarum hari itu membukakan pemikiran, bahwa berhasil itu adalah pencapaian dari usaha. Lubang jarum memberikan pilihan melalui usaha kreatif, merakit kamera sendiri, untuk menghargai proses penciptaan karya. (denisugandi@gmail.com)













