

Catatan dari workshop lubang jarum di event Yamaha Free Your Soul, 25 Nopember 2011
Tubuh itu adalah penjara jiwa, begitu tegas Plato, filsuf Yunani, abad 427 SM. Jiwa itu harus tidak terikat dengan duniawi, karena akan diserahkan dibeda alam, di akherat. Jiwa itu abadi, bisa menembus batas waktu dan ruang, tidak percaya? Tonton saja film Ghost, yang dibintangi Whoopy Goldberg, Demi Moore dan Patrick Swayze, bahwa roh bisa hadir dan bahkan masih bisa beriteraksi. Lepas dari isapan jempol, lubang jarum jauh dari cerita hayal, karena ini adalah kegiatan fisik, yang membutuhkan keterampilan khusus, namun dari aktifitas ini, niscaya, bisa menembus waktu juga, sama-sama membebaskan, sama seperti film di atas. Bahwa Roh itu harus bebas, gentayangan, meneror siapa saja yang menurutnya harus diganggu. Untuk lubang jarum, sama persis, turut mengganggu saja, bagi siapa saja yang pernah merasakan sensasinya merakit kamera lubang jarum.
Sebutnya saja si Mawar, seorang perempuan, fotografer professional di Bandung, pernah mengikuti pelatihan singkat merakit kamera lubang jarum, tahun lalu, di Museum Asia-Afrika Bandung. Semenjak tahu merakit kamera, sekarang imajinasi saya selalu tertuju pada bentuk kamera, katanya. Ia menuturkan ketika berbelanja di sebuah supermarket, yang ia lihat adalah penampakan bentuk kamera tanpa lensa. “Ini bisa dibuat kamera” katanya, sambil meraih kotak tissue. Itulah gejala penyakit gara-gara lubang jarum.
“Roh” itulah yang disebarkan dalam pelatihan singkat ICIPICIP LUBANG, dievent Yamaha Free Your Soul, minggu, 25 Nopember 2011 di Gasibu Bandung, bersama Blackhole UPI dan Pinhole Bandung. Sebut saja, puluhan partisipan turut hadir, mencicipi rasa lezat kamera lubang jarum, yang telah disipakan sebelumnya. Bebaskan jiwamu, begitu tajuk yang diusung produsen kendaraan roda dua ini, tema yang sejatinya mengajak kawula Bandung untuk mengekspresikan sebebas-bebasnya, unjuk kabisa dan talenta. Jangan Tanya kreatifitas yang lain dari pada yang lain, tetap saja, dimana-mana produsen ingin selalu berpijak pada berapa banyak pengunjung yang datang, jadi pentas musiklah yang selalu jadi sajian utama.
Dimana lubang jarum berdiri? Menurut Eka, dari penyelenggara acara, menyatakan bahwa acara ini memang telah dirancang jauh-jauh hari, namun dalam perjalanannya diputus sepihak vendor. Hingga lima hari sebelum acara, mereka menyatakan kesanggupan melaksanaan event. Bisa dikatakan dadakan, hingga pihak organizer pun mengundang minus tiga hari sebelum acara. Kenapa lubang jarum harus hadir? Pertanyaan itu saya lontarkan pada Eka, disaat pertemuan pertama. Ia mengungkapkan, bahwa event yang ia rancang bertujuan mengumpulkan komunitas, diantaranya paper craft, tattoo, komunitas otomotif dan sebagainya. Komunitas lubang jarum bisa hadir karena keunikannya.
Ruang workshop di event ini dianggap paling lebar dibandingka booth yang difasilitasi organizer sebelumnya. Sebut saja ukuran lima kali lima, persis dilajur utama area panggung Gasibu Bandung. “Saya sering denger sih, dulu kan dikampus juga saya pernah nyoba” terang Eka, dari organizer yang mengundang di event ini. Begitu juga dengan fasilitas kamar gelap, yang memang sengaja dibangun pihak penyelenggara, dengan ukuran 2 meter ke 1,5 meter, padahal sebelumnya hanya permintaan kurang serius. Satu hari pelaksanaan workshop, terhitung, semenjak dari pagi, lebih dari 60 orang yang mengikuti workshop singkat ini, mulai dari mereka yang pernah mencoba, atau belum sama sekali. Kawan kawan dari Blackhole UPI tidak pernah mengecewakan, membantu setiap pengunung untuk membuka wawasannya tentang teknik reka purba ini. Rangkaian pelatihan singkat ini membuktikan bahwa lubang jarum selalu saja menarik rasa penasaran. “Workshop ini sifatnya interaktif” jelas Desri, pada penyelenggara acara.
Tidak seperti beberapa komunitas kreatif, lubang jarum memberikan wawasan dan pengetahuan dasar, dengan turut merasakan dan menggunakan tangan, imaji serta kreatif. Sebutlah seorang anak, usia kelas lima sekolah dasar, yang diantar ibunya, turut seksama mendengarkan penjelasan Samwiel dari Blackhole UPI. Beberapa peserta diberikan beberapa pilihan bentuk kamera. Pada pertemuan ini, hanya diberi pilihan kamera rakitan dari bentuk yang sudah ada, kemudian di modfikasi; kaleng bekas rokok, kaleng silinder bekas bedak, kotak permen dan dus, semuanya diberikan pilihan. “Kameranya mau merek apa?” Tanya saya pada peserta yang hadir, yang langsung disambut senyum aneh, masa kamera bisa milih, bisa pake merek sendiri.
Keanehan seperi ini, tetap saja selalu memikat hati pengunjung, untuk mencoba. Gaya bebas lubang jarum ini sebenarnya tidak terlalu terbebankan dengan urusan hedonis, karena ia lahir dari barang bekas. Jadi siapa saja bisa menikmati tanpa harus menggunakan make up yang tebal, mode baju dan sepatu paling trend atau harus berpotongan rambut gaya bintang Korea Hyu Bin atau Ji Jin Hee. Inilah pembebasan lubang jarum sebenarnya, yang ditawarkan di pelatihan singkat ICIPICIP LUBANG, oleh komunitas Blackhole UPI dan Pinhole Bandung, bukan jiwa tetapi pemikiran.
Hingga sore jelang magrib, suara music pengeras listrik mulai menggeliat di panggung utama, menandakan pelatihan lubang jarum akan selesai. Pendar cahaya kian meretas malas, malam tiba. Sudah saatnya lapak lubang jarum tutup. Teman-teman sudah sigap berkemas, bahwa rekam gambar sudah selesai seiring matahari terbenam. Sepotong jelang senja itu menjadi sepi, diantara riuhnya musik metal band Netral di panggung utama, sekaligus meringkas masa. Jumpa lagi di pembebasan gaya lubang jarum, free your mind not soul. (denisugandi@gmaill.com)













