Catatan dari pelatihan merakit KLJ di STFB (STIKes) Koffi, 15 Oktober 2011

Ada berbagai cara untuk menikmati Lubang Jarum, diantaranya dengan seduhan Koffi, apa enakny? Kalau tidak enak, ya enak sekali, jelas T.Bachtiar bila menikmati makan siang, pada suatu kesempatan saat penelitian lapangan untuk Kelompok Riset Cekungan Bandung/KRCB. jadi tidak ada pernah ada alasan tidak menyukai, seluruhnya  patut diresapi selejat-lejatnya. Enjoy aja, kata tag line produk rokok. Kemudian apa rahasia nikmat pelatihan merakit kamera lubang jarum/klj dengan seduhan Koffi?

***

Lubang jarum tidak pernah menyimpan rahasia apa-apa, semuanya terang jelas dan bisa dinikmati siapa saja. Semangat berkarya apa adanya ini, selalu saja menggunakan material yang tersedia, karena ideologinya bukan membeli, tetapi merakit. Seperti aturan main yang tidak pernah ditulis, lubang jarum adalah semangat berbagi, baik itu metode maupun teknis perakitan, semuanya “open source” persis seperti teknologi Android, yang bisa dikembangkan oleh vendor mana saja, karena dasar pemikirannya harus bisa diakses siapa saja, kemudian dibagikan tanpa pamrih.

Menikmati klj sebatas kemasan saja, pasti kurang afdol, bila kedua tangan dan pemikiran untuk terjun bebas, sama-sama merangkaiakan merakit kamera, itu adalah sebuah langkah awal menuju “kenikmatan” yang dimaksud. Di kesempatan ini, tawaran menyeduh Koffi dengan klj terasa lain, karena dikemas dalam pelatihan singkat merakit kamera lubang jarum.  Koffi berarti Komunitas Fotografi Farmasi Sekolah Tinggi Farmasi Bandung, dikenal pula STIKes, yang beralamat di jalan Soekarno Hatta nomor 754 Cipadung Bandung.

Unit kegiatan mahasiswa yang baru saja lahir, setahun yang lalu. Bagi mahasiswa yang tergabung dalam ukm ini, adalah sebagai bentuk aktifitas kegiatan, untuk menyalurkan kesamaan minat, sama-sama menggemari fotografi sebagai ideologi. Langkah awal memanglah sulit, karena belum jelas terlihat bentuknya, maka pihak penyelenggara kampus kurang menaruh minat serius, tentang aktifitas ukm ini. Jangankan dana, ruang pun tidak ada, jelas Jefri. Tetapi tidak menyurutkan semangat tentunya, bermodal gelar lesehan di loby kampus pun jadi. “Siapa yang punya kamera? Silahkan angkat tangan” tanya saya pada angkatan baru Koffi mahasiswa-mahasiswi farmasi angkatan 2011, yang disambut hanya lima orang saja dari empat puluh lebih anggota baru. Fakta ini membuktikan bahwa memotret  itu harus menggunakan modal, membeli kamera, padahal lubang jarum memberikan pilihan lain bahwa kamera bisa dirakit, dengan sedikit kemauan.

Pelatihan lubang jarum ini, diperuntukan dalam rangkaian diklat dasar penerimaan anggota baru Koffi angkatan 2011. Satu minggu sebelumnya telah disampaikan rangkaian motivasi dalam fotografi. Meskipun fotografi kini bisa diakses siapa saja, namun untuk memilikinya, tetap saja harus membeli. Dalam materi sebelumnya, yang disampaikan oleh Deni Sugandi dan Ivan Arsiandi, memberikan pilihan dalam kreasi fotografi. Terhitung lebih dari empat puluh orang lebih, yang tergabung dari dua ratus mahasiswa untuk satu angkatan di SFTB jurusan Farmasi. Banyak diantaranya, bergabung karena bagian dari pemenuhan akademis dan sebagian lagi memilih karena menyukai fotografi. “Kata siapa memotret harus membeli kamera digital” lempar Ivan Arsiandi pada forum pada pembekalan pertama, satu minggu sebelum. Pernyataan ini memberikan pilihan bahwa fotografi bisa diakses dengan cara alternatif, merakit bukan membeli.

Sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, pukul delapan lebih beberapa menit, partisipan anggota baru Koffi 2011 telah hadir sebelumnya. Beberapa diantaranya tinggal disekitar kampus, jadi tidaklah sulit datang lebih pagi. Ruang loby kampus disulap sementara menjadi ruang pertemuan pemberian materi. Untuk kamar gelap, awal rencana menggunakan ruang sekretariat ukm, akhirnya dipindahkan di ruang jaga satpam, di depan kampus, persis sebelah anjungan tunai mandiri. Ruang kecil dadakan ini, menjadi kamar gelap, muat untuk 4 orang saja. Pemberian materi, tidak terlalu bertele-tele, karena waktu terasa cepat sekali bergeser, partisipan langsung diarahkan merakit kamera. Dengan menggunakan media yang sudah ada, kemudian dimodifikasi, kemasan karton 500 mili paling cocok. Kurang lebih hampir satu jam, beberapa partisipan telah selesai.  Jefri, Fajar dan kawan-kawan dari Kofii turut membantu, sebagian lagi ikut merakit kamera. Ahmad Afgan, Agus Oo, Desri dan Roni Syahron Fajar dari Pinhole Bandung, turut pula hadir, membantu dan mengarahkan pada saat memotret hingga proses di kamar gelap.

Ruang luar kampus menjadi ajang uji coba, obyek foto. Fajar dari Koffi sudah menyediakan motor modifikasi untuk menjadi model foto. Sebagian lagi lebih menyukai memotret bangunan kampus. Siang panas saat itu sangat cocok, cukup empat  hingga lima detik saja ya, teriak Ahmad Afgan. Beberapa partisipan tampak kikuk juga memotret dengan menggunakan tetrapak ini. Untung saja, Agus Oo, selalu sigap siap sedia membantu, apalagi mayoritas partisipan adalah mahasiswi, calon apoteker lagi. Kemasan karton merek salah satu kemasan minuman ukuran 500 mili itu memuat kertas foto, kemudian dilipat dua, jadi setiap orang bisa mengekspos dua kali. Terlihat lucu juga, ada beberapa orang, seperti Putri Dianita memcoba memotret kawannya. “Awas ya jangan bergerak” sergahnya.

“Kang yang saya gambarnya hitam?” tanya partisipan pada Ahmad Afgan fasilitator dari Pinhole Bandung, yang langsung di sambar Agus Oo, “Bocor neng” katanya. Kemudian disambung lagi oleh Ahmad Agfan “Kalau pengen tahu bocor atau tidak, gampang, rendam aja di air, nanti kalau keluar udaranya, itu yang bocor” yang kemudian disambut tawa. Hingga pukul menjelang makan siang, kemudian dilakukan evaluasi hasil karya. Sesi penutup ini dianggap penting, karena untuk memberikan pemaknaan dari proses dari merakit, memotret hingga proses di kamar gelap. “Jadi syarat sebuah kamera itu harus mempunyai ruang, disebut ruang gelap” seru saya sekaligus menyimpulkan. Bahwa kamera itu bisa dibuat dari material dan bentuk yang beragam, hari ini belajar membuat kamera dari kemasan karton 500mili, selanjutnya bisa improvisasi, selama ada ruang gelap tadi, tambah saya disaat evaluasi. Bagi Koffi, metode “membuat proyek fotografi” dirasa lebih penting, dibandingkan melatih menjadi operator kamera digital. Dengan lubang jarum pun bisa menyampaikan pesan, karena ia sama-sama fotografi. Tugas akhir dari pendidikan dasar angkatan 2011 adalah pameran foto bersama, dengan tema PASAR TRADISIONAL dan MODERN.

Usai pelatihan, bukan berarti selesai memberikan solusi bahwa memotret tidak harus membeli kamera digital, namun Pinhole Bandung (KLJI Bandung, Blachole UPI) telah menularkan rasa lejat menikmati suguhan bersama Koffi, tentang arti pentinggya kreatifitas merakit kamera, imajinasi saat memotret dan keterampilan merakit. Jelas fotografi bisa tampil dengan cara lain, sebuah pilihan, alternatif fotografi. (denisugandi@gmail.com)

Share:
  • Digg
  • email
  • Facebook
  • Google Buzz
  • Ping.fm
  • Plurk
  • StumbleUpon
  • Twitter
  • Yahoo! Buzz
  • del.icio.us
  • RSS
  • Tumblr